إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh barakah ini, di bulan Dzulhijjah yang mulia, khatib senantiasa berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Ketakwaan yang sebenar-benarnya, yang diwujudkan dengan kepatuhan total dalam menjalankan segala perintah-Nya, serta kesungguhan hati dalam menjauhi segala larangan-Nya, kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun kita berada.
Bulan Dzulhijjah ini bukanlah bulan biasa. Ia adalah salah satu bulan haram (suci) yang di dalamnya berkumpul ibadah-ibadah agung. Ingatan kita pada bulan ini senantiasa tertuju pada sebuah peristiwa monumental dalam sejarah peradaban manusia, yaitu peristiwa yang dialami oleh Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam beserta putra kesayangannya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Sebuah peristiwa luar biasa yang menjadi cikal bakal disyariatkannya ibadah Kurban dan prosesi ibadah Haji bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Nabi Ibrahim diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat berat dan mungkin tidak akan sanggup dipikul oleh manusia biasa. Beliau diperintahkan untuk menyembelih putra yang telah lama dinanti-nantikannya. Mari sejenak kita merenung dan menempatkan diri kita pada posisi beliau. Bayangkan, seorang ayah yang merindukan kehadiran buah hati puluhan tahun lamanya. Di usia senjanya, ketika rambut telah memutih dan tulang telah melemah, Allah karuniakan seorang anak yang tidak hanya rupawan, tetapi juga sangat saleh.
Namun, ketika anak itu beranjak remaja dalam usia yang sedang lucu-lucunya dan menjadi pelipur lara, masa yang paling membahagiakan hati orang tuanya turunlah wahyu melalui mimpi yang hakiki. Mimpi para nabi adalah wahyu (ru’ya al-anbiya’ wahyun). Wahyu itu memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih buah hatinya sendiri. Ujian ini adalah ujian untuk membuktikan gelar kehormatan Khalilullah (Kekasih Allah) yang disandang Nabi Ibrahim; apakah cinta kepada anaknya akan mengalahkan cintanya kepada Tuhannya?
Kisah yang menggetarkan arsy ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.”
Hadirin Rahimakumullah,
Dari rentetan peristiwa dan dialog singkat nan mengharukan antara ayah dan anak ini, ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mengajarkan kepada kita beberapa hikmah mendalam yang patut kita renungkan dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari:
Pertama, Ketaatan Mutlak dan Bukti Cinta kepada Allah.
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus senantiasa ditempatkan di puncak tertinggi, di atas segalanya. Beliau rela mengorbankan apa yang paling dicintainya di dunia ini demi menaati perintah Tuhannya. Kecintaan kepada harta, takhta, dan keluarga, betapapun besarnya, tidak boleh menutupi ketaatan kita kepada Sang Khaliq. Ibrahim membuktikan bahwa di relung hatinya yang paling dalam, tidak ada ruang bagi kesyirikan, tidak ada yang bertahta selain Allah Yang Maha Esa.
Kedua, Pentingnya Pendidikan Keluarga yang Berlandaskan Tauhid.
Perhatikanlah jawaban Nabi Ismail ‘alaihissalam. Itu bukanlah jawaban seorang anak yang ketakutan, bukan pula anak yang memberontak. Itu adalah jawaban seorang hamba yang di dalam dadanya telah tertanam tauhid yang sangat kokoh. Ismail bahkan menguatkan hati ayahnya. Ini adalah buah manis dari pendidikan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Mereka mendidik keluarga dengan menanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini, menjadikan rida Allah sebagai tujuan utama kehidupan. Inilah potret keluarga ideal yang harus kita tiru di tengah era modern ini, di mana banyak orang tua sukses mewariskan harta, namun gagal mewariskan ketakwaan kepada anak-anaknya.
Ketiga, Hakikat Kurban: Mencari Rida, Bukan Sekadar Darah dan Daging.
Ketika Nabi Ibrahim dengan penuh keikhlasan menghunuskan pisaunya ke leher Ismail, saat itulah ujian berakhir. Ketaatan telah dibuktikan. Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar dari surga. Peristiwa ini mensyariatkan kita untuk menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Namun, yang perlu kita garis bawahi dengan kuat, Allah sama sekali tidak membutuhkan daging dan darah dari hewan yang kita sembelih. Hakikat dari ibadah kurban adalah ketakwaan, keikhlasan, dan kepatuhan yang bersemayam di dalam hati kita. Allah menegaskan hal ini dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Keempat, Menyembelih Ego dan Membangun Solidaritas Sosial.
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Bila kita renungkan lebih dalam, menyembelih hewan kurban pada hakikatnya adalah simbolisasi dari menyembelih “sifat-sifat kebinatangan” yang acap kali mendominasi diri manusia. Sifat rakus, tamak, sombong, menindas yang lemah, egois, dan hanya mementingkan diri sendiri semua itu harus kita letakkan di bawah pisau pengorbanan dan kita buang jauh-jauh dari hati kita.
Lebih dari itu, ibadah kurban mendidik kita untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Syariat menetapkan bahwa sebagian daging kurban harus dibagikan kepada fakir miskin, selain dimakan oleh keluarga yang berkurban dan dihadiahkan kepada tetangga serta kerabat. Ini adalah bentuk nyata dari pemerataan kebahagiaan, memupuk solidaritas, dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Kurban menghancurkan sekat-sekat kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: pengorbanan apa yang sudah kita berikan untuk agama Allah? Sudahkah kita mengorbankan ego kita demi kebaikan bersama?
Semoga di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, Allah senantiasa memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan ketabahan Nabi Ismail. Semoga Allah menerima setiap amal ibadah kita, menerima kurban kita, memberkahi keluarga kita, dan menggolongkan kita semua ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah ke2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Oleh : Adam Azka
